Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Februari 2011

Perjalanan Geng “TePoci”

dulu pas gue SMA pernah bikin komunitas atau geng gitu. Awalnya sih cuma buat becandaan doang. Eh tak disangka dan diduga keberadaan geng gue diakuin ama geng lain yang ada di sekolah SMA gue waktu itu. Nah ini dia cerita awal muasal geng gue terbentuk. haha...

       Nama TePoci itu sendiri dibikin karena pemikiran dari gue dan tmen2 gue. Waktu itu sih di SMA gue kebanyakan nama geng dibuat dari tempat mereka biasa ngmpul dan dijadin tempat basecamp. nah kebetulan temen2 gue dan gue juga sering ngumpul di tempat minum Teh Poci gituu. haha . Dan tanpa sengaja dengan tempat biasa gue ngmpul. Langsug aja ama tmen gue yang namanya Agung mngklaim nama TePoci sebagai nama geng gue dan basecamp nya juga disitu dahh. hahahaha... konyoll bangett dahh ...
Singkat ceritta akhirnya geng tersebut terbentuk. Saat itu kalo ga salah tanggal 21 Desember 2009. Nah ini gue mau ceritain perjalanan pertama kali geng gue konvoy. ga konvoy sih sebenernya cuma jalan-jalan aja tapi rame2 dah kaya konvoy lah. haha..

         Di suatu siang yang sangat panas karena teriknya matahari, sesaat setelah jam pelajaran disekolah berakhir. Para murid-murid di salah satu SMA di Ibukota kembali pulang ke rumah masing-masing. Namun  berbeda dengan kebiasaan para gerombolan geng yang dikenal dengan nama “TePoci”. Mereka adalah suatu perkumpulan pemuda yang sangat menjunjung sikap kesetiakawanan dan juga anti kekerasan.
            Namun saat para anggota geng tersebut berkumpul di suatu tempat yang telah dijadikan beskem “TePoci”. Salah seorang dari anggota geng tersebut yang bernama Rio merencanakan untuk mengelilingi kota Jakarta dengan menggunakan sepeda motor.
            “Bagaimana jika kita keliling Jakarta pake motor ? kan bakalan seru tuh. Kan jarang-jarang kita jalan keliling Jakarta pake motor ! gimana pada mau ga ?”ajak Rio.
            “Wahh.. boleh juga tu BOS . . . .” ujar Magung. 
Tanpa berfikir panjang lagi semua anggota geng tersebut setuju dengan pendapat temannya itu, yang biasa dipanggil BOS.
            Namun salah seorang anggota geng yang bernama Brayy mendapat kabar, bahwa tantenya mendapat musibah dan sekarang dirawat di Rumah Sakit.
            “Waduh.. sory nich Sob, gua ga bisa ikut ma lo-lo pada. Abis tante gua dapet musibah neh. Jadi gua harus nengokin.” Kata Brayy dengan sedih.
            “Yaah . . jadi ga seru donk nih kalo gad a lo ! tapi ya mo di apain lagi kalo keluarga lo ada yang dapet musibah.” Ujar Achil.
               Akhirnya Brayy pun tidak jadi ikut berkeliling Jakarta dengan para anggota “Teh Poci”. Dan langsung pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk tantenya yang sedang dirawat. Sebelum berangkat para anggota geng ini menyiapkan segala sesuatunya yang akan dihadapi saat dijalan nanti.
            Namun ada sedikit kendala sesaat sebelum berangkat. Motor Achil mengalami kekeringan bensin.
            “BOS bensin gua kering neh !! gimana donk ?” keluh Achil.
            “Yaudah lah neh pake uang gua dulu beli bensinnya ! tapi besok harus ganti ya !” ujar Magung.
            Akhirnya gerombolan geng “TePoci” berangkat dengan sepeda motor yang bergerombolan pula. Jalan demi jalan dilewati dengan tenang dan tertib. Namun dengan begitu para anggota geng tersebut masih tetap berjaga-jaga untuk menghindari para polisi yang siap menilang para pelajar yang membawa kendaraan bermotor. Dengan segala daya dan upaya akhirnya semua jalan dapat dilewati dengan aman dan terkendali. Hingga akhirnya sampai di tempat tujuan yang tadinya tidak direncanakan sebelumnya. Yaitu di “Taman Menteng”.
            Disana para gerombolan beristirahat sejenak dan menikmati sejuknya “Taman Menteng”. Tidak lupa juga para personil “Teh Poci” ini mengabadikan kejadian ini dengan berfoto-foto dan membuat kenang-kenangan dengan membuat sedikit coretan yang berisikan nama-nama member “TePoci”. Namun karena hari sudah semakin sore. Akhirnya BOS (Rio) memutuskan untuk pulang.
Sama dengan keberangkatan tadi, para anggota geng ini harus berjaga-jaga juga dalam melewati jalan-jalan yang rawan polisi. Karena tidak ada satu pun para anggota geng ini yang membawa surat-surat kendaraan yang lengkap. Sebelumya para gerombolan geng ini berkumpul. Namun karena factor kemacetan yang sangat biasa sering terjadi di Jakarta ini. Akhirnya semuanya berpencar kemana-mana dan tidak ada satu pun yang melihat atau bertemu kembali. Hingga akhirnya semua anggota “TePoci” ini kembali dan sampai di rumah masing-masing tanpa satu pun yang tertinggal atau tersesat. Inilah perjalanan para personil anggota “TePoci” yang mungkin sangat melelahkan sekali karena harus menempuh jalan yang sangat jauh dan kendala-kendala yang  terjadi saat diperjalanan. Namun perjalanan ini sangat menarik dan telah menjadi saksi untuk keberadaan geng “TePoci”. 

PERSAHABATAN


Setelah meletakan dan mengunci sepedanya di tempat parker,  wahyu cepat –cepat berlari menuju kelasnya. Sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi. Uh, gara- gara habis shalat subuh tadi tidur lagi, aku jadi kesiangan! Kesalnya dalam hati.
Baru saja saja kaki Dani sampai di depan pi\ntu kelas, bel tanda masuk berbunyi nyaring. Wahyu langsung mendaratkanpantatnya di tempat duduknya. Tapi, lo... yang duduk ndi kursi sebelah ku kok Azis, bukan Angga? Wahyu kaget teman sebelah bangkunya berganti orang. Angga, teman sebangkunya kini duduk sebang ku dengan putra.
          “Loh, yu...., kamu kok gak duduk sama putra,“ tanya wahyu, heran. Tapi Azis tak menjawab. Mukanya tampak keruh sekali. Jangan – jangan dia habis bertengkar dengan putra ? Terka Azis dalam hati.
          “Ng..., yu..., boleh kan aku dudukl dengan kamu?“ Azis bertanya dengan ragu- ragu. Wahyu mengernyitkan dahi. Bingung.
          “Boleh kan, yu? Aziz memohon.
          “Boleh, boleh saja, kok. Tapi bilang dulu apa alasanmu sampai pindah duduk segala?“ Wahyu minta poenjelasan. Di kursi sebelah kanan Wahyu, Putra sekarang duduk dengan Angga kelihatan gelisah.
          “Nanti saja deh, aku ceritakan,“ ujar Aziz akhirnya.
          Wahyu ingin bertanya lagi tapi Pak Andy, guru Bahasa Indonesia, yang akan mengajar pada jam pertama sudah masuk kelas.
          “Selamat pagi, Anak-anak ....,“ Pak Andy menyapa penuh semangat.
          “Selamat pagi, Paaakkk ….,!” Anak-anak menjawab kompak.
          “Silahkan kumpulkan tugas kalian minggu lalu!“ perintah Pak Andy dengan nada yang akrab tapi tegas. Itulah gaya mengajar Pak Guru yang masih muda itu, tegas, disiplin, tapi jauh dari kesan galak. Bila mengeluarkan perintah selalu menyisipkan kata “Silahkan“, atau “terima kasih“ bila anak-anak telah melaksanakan perintahnya. Dengan sikapnya yang demikian membuat anak-anak menjadi patuh dan hormat, karena mereka merasa dihargai juga oleh Pak Andy.
          “Terima kasih, kalian telah mengerjakan tugas dan mengumpulkannya dengan tertib,“ kata Pak Andy kemudian, setelah satu persatu anak-anak menyerahkan kertas tugas itu kemeja guru.
          “Wahyu, coba kamu bacakan ringkasan buku cerita milik Putra!” tunjuk Pak Andy pada Wahyu. Tempat duduk Wahyu berada tepat di meja guru, sehingga ia sering mendapat giliran pertama untuk maju. Atau, pada kali ini, anak yang duduk di bangku paling pojok belakang yang mendapat giliran pertama untuk maju pertama. Pokoknya diganti-ganti, biar ada variasi, kata Pak Andy.
          Wahyu pun maju kedepan dan membacakan tugas milik Putra. Minggu lalu, Pak Andy memberi tugas pada anak-anak untuk membuat ringkasan cerita dari buku yang mereka baca. Bukunya pinjam dari perpustakaan atau milik pribadi.
          Saat Wahyu membacakan tugas itu Putra tampak tersenyum bangga, sedangkan Aziz malah meregut tak senang.
          Satu per satu anak-anak itu bergiliran maju, hingga selesai. Pak Andy memberikan hadiah buku cerita anak kepada anak yang nilainya paling tinggi.
          “Ayo, katanya kamu mau cerita,“ kata Wahyu mengingatkan Aziz, ketika keduanya duduk di bangku kantinpada saat istirahat pertama. Kedua anak itu memesan dua mangkok kolak pisang pada pelayan kantin. Tak berapa lama pesanan pun datang.
          Sambil makan kolak pisang, Aziz pun menceritakan masalah pada Wahyu. Tentang Putra yang selalu mau menang sendiri, dalam hal apa saja. Putra sering meminjam barng milik Pziz, seperti VCD, kast, atau buku. Tapi, Putra kalau meminjam lama sekali. Dan, setelah kembali pasti dalam keadaan rusak. Meski demikian, Putra tak pernah meminta maaf pada Aziz. Seolah-olah ia tak pernah melakukan kesalahan.
          Karena Aziz tak berani menegur, maka sikap Putra semakin menjadi-jadi saja. Lama-lama Aziz menjadi bosan juga dipermalukan begitu oleh Putra. Maka, pagi ini ia pun protes pada Putra ketika buku ceritanya yang terbaru, yang dipinjam Putra untuk dibaca dan diringkas untuk tugas, dikembalikan dalam kondisi rusak parah. Tapi, Putra malah marah-marah, dan mengatakan bahwa Aziz sombong, pelit, dan suka menuntut. Padahal Aziz tak pernah menuntut ganti rugi, Cuma mengingatkan Putra agar lebih berhati-hati menjaga barang pinjamannya.
          “Ooh, karena itulah kamu pindah tempat duduk?“ tanya Wahyu maklum, setelah Aziz menuntaskan ceritanya. Aziz menangguk lemah.
          Wahyu menatap ibs pada Aziz, yang pendiam dan suka menyendiri. Temannya tidak banyak. Hanya Putra teman dekatnya. Tapi, ternyata Putra sering mempermalukan Aziz sesuka hatinya. Hati Wahyu pun terusik. Ia tidak mau kedua anak itu terus bermusuhan. Ia harus mendamaikan keduanya. Ya, sebagai ketua kelas Wahyu merasa punya tanggung jawab untuk menjaga kerukunan warga kelasnya. 

Pengalaman Liburan di Lampung

gue mau sharing nih sekalian cerita pengalaman gue pertama kali ke daerah Lampung. Tempat kakek nenek gue ngurusin kebon and empang bokap gue disana. 
berikut ceritanyaa . . 


Beberapa tahun  silam saat saya liburan ke suatu daerah di Sumatra Selatan saat pertama kalinya saya pergi ke sana tepatnya di daerah Lampung. Disana saya mendapat pengalaman yang sangat seru. Disana juga saya mendapat pelajaran berharga yang tidak pernah saya dapatkan di Jakarta. Saat liburan dating keluarga saya berencana untuk liburan ke Lampung. Dan akhirnya saya dan keluarga saya berangkat untuk liburan disana. Untuk pergi kesana saya menempuh perjalanan yang sangat jauh selama 1 hari penuh. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan sekali. Hingga akhirnya kami pun tiba, malam sudah sangat larut sekali sehingga disana sangat gelap. Selain itu disana juga belum ada daya listik yang menyebabkan daerah sana jika malam hari terlihat sangat gelap sekali. Namun ada beberapa rumah yang terlihat adanya listrik dengan bantuan generator listrik.   

        Setelah sampai dirumah saya langsung tidur terlelap, karena saya sangat lelah sekali. Dan tidak terasa akhirnya pagi pun tiba. Ayam-ayam pun berkokokkan dengan udara yang sangat sejuk yang tidak pernah saya dapatkan jika di Jakarta. Saya pun sarapan dengan keluarga saya sebelum saya berkeliling dengan kakak saya untuk melihat pemandangan-pemandangan yang indah di puncak bukit dekat dengan rumah. Setelah saya puas melihat pemandangan di bukit, saya langsung pergi ke empang milik Ayah saya yang terletak di bawah bukit rumah. Di perjalanan saya melihat banyak sekali orang-orang sedang bercocok tanam, dan ada pula yang sedang memanen ikan. Sesampainya di empang saya melihat ada pondok yang lumayan bagus yang saya tempati untuk istirahat nanti. Saya melihat empang Ayah saya ternyata sangat besar sekali. Di empang Ayah saya banyak sekali ikan dan udangnya yang saya bisa ambil semaunya dengan bebas. Saya pun mencoba memancing dengan Ayah saya. Setelah menunggu lama akhirnya saya mendapat ikan dan udang yang cukup untuk makan siang nanti. Sedangkan Ibu dan kakak saya pergi untuk mengambil sayur-sayuran yang segar yang berada disamping empang tempat saya dan Ayah memancing. Akhirnya saya dan keluarga saya makan sian dari bahan-bahan yang telah diperoleh dari hasil memancing dan mencari sayuran. Setelah hari sudah mulai sore saya mencoba menaiki perahu yang terbuat dari plastik piper yang berada di empang. Mulanya saya tidak bisa mendayung dengan benar, dan sering sesekali menabrak pinggir empang. Namun Ayah saya membantu saya menjalankan perahunya dengan benar. Berkat bantuan Ayah saya akhirnya saya pun bisa mendayung dengan benar dan menjalankannya dengan lancar. Tidak terasa hari pun semakin gelap karena saya keenakan bermain perahu. Dan akhirnya Ayah saya memutuskan untuk tinggal satu malam di pondok. Untung saja di pondok ada generator listrik, sehingga keadaan di pondok menjadi tidak gelap.

        Keesokan harinya seperti biasa keluarga saya menjalankan aktifitasnya. Namun Ibu saya mengajak saya pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Hari itu adalah hari pasar yaitu hari kamis. Di sana pasar akan ramai seminggu sekali. Karena pasarnya juga hanya aktif sekali dalam seminggu atau disebut pasar mingguan. Sehingga jika ingin kepasar harus pagi-pagi sekali karena jika tidak bahan-bahan yang akan dibeli akan habis dibeli orang lain. Setelah sarapan saya pun pergi dengan Ibu dan kakak saya. Dipasar sangat ramai sekali, sehingga Ibu saya kesusahan untuk membeli bahan-bahan yang ingin dibeli. Selain itu harga-harga bahan pokok dipasar relatif lebih mahal dari pasar-pasar  yang umumnya ada di Jakarta. Akhirnya setelah menunggu lama Ibu saya telah selesai membeli bahan-bahan yang di butuhkan. Ibu saya terlihat sangat lelah sekali karena dipasar tadi Ibu berdesak-desakan dengan orang-orang. Karena pasar disana hanya aktif sehari dalam seminggu, saya harus bisa menghemat bahan makanan agar bisa cukup dalam satu minggu untuk kebutuhan keluarga saya.
        Sesampainya di rumah ternyata ada saudara saya yang mengajak  keluarga saya pergi ke empangnya. Saya dan keluarga pun langsung berangkat seusai makan siang. Perjalananya cukup jauh jika dengan kendaraan mobil. Akhirnya Ayah saya mengambil jalan cepat dengan menaiki perahu getek melewati danau yang sangat panjang. Karena hari masih siang, air di danau masih rendah atau belum pasang sehingga tidak bisa menjalankan perahunya dengan alat mesin motor yang ada pada perahu. Sehingga perjalanannya menjadi lama. Saya sedikit kesal karena hari semakin panas sekali. Akhirnya setelah menunggu lama saya pun tiba di empang saudara saya. Ternyata empang saudara saya sedang di panen. Saya pun senang bisa melihat bagaimana cara orang memanen ikan dan udang. Saya melihat hasil panen ikan dan udang yang sangat besar yang ditaruh di beberapa drum yang sangat besar. Setelah semua selesai memanen, saudara saya mengajak untuk menikmati hasil panennya dengan memakan ikan dan udang yang telah dipanen tadi. Akhirnya saya pun kembali dengan sedikit membawa oleh-oleh dari hasil panen saudara saya yang cukup untuk makan malam nanti. 

        Hari demi hari berlalu dengan cepat. Hingga akhirnya saya pun kembali ke Jakarta. Bagi saya pengalaman itu adalah pengalaman yang paling berharga yang saya alami, karena disana saya bisa merasakan apa yang orang-orang di daerah Lampung rasakan. Ketiadaan arus listrik, kelangkaan bahan makanan, dll. Dengan keterbatasan itu saya mendapat pelajaran tentang bagaimana cara untuk harus menghemat bahan makanan maaupun dalam menghemat listrik. Karena masih banyak orang yang tidak bisa menikmati apa yang kita dapat nikmati sekarang ini.

Sekian ceritaanya . .

Rabu, 23 Februari 2011

Hoby Kakak Beradik


Cerpen lagi nih . . .
check it out . . 

Di suatu hari ada sebuah keluarga yang sangat bahagia dan hidup dengan rukun.Di dalam keluarga tersebut terdapat sepasang orang tua dan memunyai 2 orang anak laki-laki. Ayah dari 2 anak tersebut bernama Pak Tomi dan ibu mereka bernama Yuli,sedangkan anak mereka yang pertama bernama Andi dan adiknya bernama Adi, dia selalau akur meskipun terkadang mereka suka bertengkar, selisih umur mereka berdua adalah 3 tahun dan sekarang kakak Andi duduk di kelas 6 SD( Serkolah Dasar ) sedangkan adiknya duduk di kelas 3 SD.

          Suatu hari pagi ayah mereka mengajak keluarganya untuk berlibur ke suatu tempat yang mengasikkan, untuk menikmati liburan sekolah, dan anank-anakpun penasaran untuk mengetahi tempat yang akan di ajak ayahnya, merekapun selalu bertanya “Ayah kita memangnya mau kemana ???”,Tanya Andi dan Adi . Ayahpun menjawab “Kita akan perdi ke tempat yang sangat mengasikkan yang belum pernah kalian kunjungi”, Jawab Ayah kepada anaknya. “ Tapi kemana Yah ???”Kata Adi dengan lantang.Kan ayah sudah bilang kita akan ketempat yang sangat mengasikkan”.Jawab ayah.

          Setelah sampai di tempat tujuan Andi dann Adi tersenyum heran, ternyata yang dikunjunginya adalah stadion yang belum sama sekali mereka kunjungi. Ternyata ayah mereka ingin melihat pertandingan Bola dan sekalian ingin mengenang saat-saat Pak Tomi bertemu dengan Bu Yuli.Dan dengan lesu mereka berdua memasuki stadion kebanggaan ayahnya itu.

          Andi bertanya kepada ibunya.”Kenapa sih bu mesti kesini ?”Iya bu ? kata Adi.”Hmmmmm mungkin ayah sudah lama tidak ke tempat ini”. Jawab ibu. “ Memangnya tempat ini mempunyai kenangan apa bu ?”. Tanya Adi. “ Ini tempat dimana ibu bertemu dengan ayah kalian, Pada saat itu ibu tidak kedapatan tiket final Copa Indonesia antara kesebelasan Jakarta dengan kesebelasan Palembang. Tiba-tiba ayah kalian menghampiri ibu dan memberikan tiket nonton untuk melihat pertandingan tersebut. Dan akhirnya kami berdua duduk bersebelahan. Dan ketika kesebelasan Jakarta yang meripakan tim vaforit kami berdua memasukkan Bola ke gawang Tim Palembang dengan respon kami berdua berpelukkan dengan girang dan aengan gembira saat itulah cinta kami dimulai.” Jawab ibu.

          Dan petandingan antara kesebelasan Jakarta dengan kesebelasan Bandung akhirnya di mulai juga. Andi dan Adi melihat pertandingan tersebut dengan rasa bangga.Sampai akhirnya kesebelasan Jakarta memenangkan pertandingan melawan Tim Bandung dengan adu penalty.

          Setelah keluar dari stadion Andi dan Adi sangat gembira dan senang sekali, sampai-sampai mereka berdua ingin di belikan Bola. Lalu Andi dan Adi ingin sekali menjadi pemain sepak bola yang bisa dilihat banyak orang.

Metro Mini

Kali ini gue mau ceritain pengalaman gue saat SMA. mau tau ?? baca aja nih cerpen karangan gue sendiri.

Pada suatu hari yang sangat panas tiga orang pelajar pulang dari sekolah nya, diya adalah acil, gery dan magung, mereka adalah pelajar dari sebuah SMA di Jakarta,.Pada suatu saat mereka ingin mengerjakan tugas di rumah acil, mereka pun memutuskan menaiki KWK 03 jurusan Cakung yang jarang sekali sampai ke Cakung dan malah muter balik di daerah bulog city.
“we ko ga ada yang lewat si KWK nya” ujar gery sambil menggaruk kepalanya yang botak seperti tuyul.
“sabar sihh, nanti juga dateng” jawab acil dengan santainya.
“luw botak ga sabaran lage” kata magung mengejek gery.
          Setelah 1 jam menunggu akhirnya mobil yang di tunggu pun datang. namun kwknya penuh dengan penumpang dan tidak muat untuk kami bertiga.
“aahhk,, penuh“ kata acil.
Namun abang supirnya masih saja memaksa untuk naik,
          “ayo de,, masih muat dua orang lage nie, dahh yang tuyul tinggalin ajah“ kata abang supir KWK 03 menawari,
          “aahh.. oga ahh“ jawab magung.
          “mang nya yang satu lage mau di kemanain bang? Tanya acil.
          “aaahhk yang tuyul kaya gitu mah, tampang-tampang ga bakalan bayar“ jawab abang supir KWK 03 dengan lancarnya.
          “kaya ganteng ajah luw bang“ jawab gery.
Ahkhirnya meraka pun memutuskan untuk tidak menaiki mobil itu, dari kejauhan kelihatan mobil bus yang berwarna orange dan biru di bawahnya, dengan mengeluarkan sap seperti cumi-cumi, semakin mendekat kami pun terpana dengan tulisan angka 41 di atasnya.
          “ayoo de.. ayo de...“ ajak kenek metro mini 41.
          “sampe gadung ga bang?“ Tanya gery.
          “ia de.. ayo de.. gadung de..“jawab kenek metro mini 41.
          “ah yang bener luw bang??“kata acil.
          “ia bener“.jawab kondektur metro mini 41.
Akhirnya mereka bertiga pun menaiki bus metro mini 41. Namun bus metro mini 41 yang mereka tumpangi  berjalan dengan sangat lambat. Kondektur metro mini pun menagih ongkos dengan mengulurkan tangannya.
“ayoo de.. ayo de..” meminta uang ongkos.
“nie bang” kata gery sambil mengulurkan uang 1000 rupiah.
“de...kurang neh !!! Gope lage ne !!! ujar kenek metro.
“ah Cuma gope aja bang !!“ jawab geri.
“gope juga duit de !!” ujar kenek.
“ne bang......!“ jawab Magung sambil memberi tambahan uang 500 ke kenek.
Dan di saat perjalanan, terlihat bus metro mini 41 yang lain yang bergambarkan lambang AC Milan di belakangya, tanpa berpikir panjang lagi supir metro mini 41 menacap gas seperti pembalap, penumpang pun langsung panik dan ketakutan,
          “bang yang bener donk luw, bisa nyetir ga seh ??!! tegur seorang Ibu Gendut.
          Tanpa menghiraukan teguran Ibu tadi supir metro malah menambah kecepoatannya.
“Astaghfirullah“ kaget Ibu tadi.
Akhirnya metro mini 41 yang berlambangkan AC Milan tersebut terlewati dengan susah payahnya. Hingga akhirnya mendapatkan penumpang lagi di Gading Griya.
“bang muter ga ???“ tanya penumpang tadi ke kenek.
“kaga coy . . . “ jawab kenek.
Setelah 20 meter kemudian tiba di persimpangan jalan yaitu di POM Bulok. Dan tiba-tiba metro mininya langsung masuk ke dalam POM. Dengan spontan para penumpang bertanya pada kenek.
“bang ko muter bang ?? kata nya tadi ga muter ??” tanya penumpang yang tadinya belum lama naik.
“udah de abis de . . .” jawab kenek dengan santainya.
“uuuuuuuu . . . . . . . “ sorak para penumpang.
“yang bener donk bang !!!” kata Ibu Gendut tadi.
“ahh, balikin lah duit gua bang !!!“ ujar geri dengan emosi.
“ah bayar seceng aja belagu lu !!“ jawab kenek.
“seceng juga duit bang.“ Ujar geri kembali.
“iya juga ya.“ Jawab kenek dengan terpaksa sambil mengembalikan uang ongkos tadi.
Akhirnya para penumpang pun turun dengan terpaksa. Dan akhirnya Geri,Acil, dan Magung pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan. Tidak lama kemudian terlihat mobil Jaguar yang ternyata adalah teman mereka yang sering dipanggil Bos Rio. Dan akhirnya Bos Rio pun mengantar mereka ke rumah Acil.

Selasa, 22 Februari 2011

AKIBAT MEMENTINGKAN BERMAIN


          Suatu hari saat di Sekolah, Fhad berencana akan mengerjakan tugas Biologi bersama Ono sepulang sekolah nanti. Hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi. Tet-tet-tet. Tanpa membuang waktu Ia pun langsung mengajak Ono untuk mengerjakan tugas di rumahnya. Namun saat Ia ingin berangkat datang lah Agung bersama teman-temannya mengajaknya untuk bermain CS. Mulanya Ia menolak ajakan Agung, sebab Ia sudah janji akan mengerjakan tugas Biologinya di rumah Ono. Setelah berfikir lama akhirnya Fhad tergiur dengan ajakan Agung, namun Ono berniat melarang Fhad agar jangan ikut dengan Agung. Dan akhirnya Ono pun juga tergiur dengan tawaran Agung, karena Fhad menunda mengerjakan tugas Biologinya.

          Sebelum berangkat Fhad dan Agung beserta teman-temannya berkumpul di rumah Chandra. Namun Agung membatalkan niatnya untuk bermain CS, dan akhirnya memutuskan untuk nomat (nonton hemat) di bioskop XXI. Fhad pun makin tergiur dengan ajakan Agung. Setelah bersiap akhirnya Fhad dan teman-temannya pun langsung berangkat ke Gading. Namun dalam perjalanan banyak sekali terjadi masalah. Dalam perjalanan di pintu Gading III banyak polisi yang sedang razia kendaraan bermotor. Fhad pun langsung berbalik arah karena motornya tidak dipasangkan kaca spion. Fhad pun mengambil jalan yang lebih aman yang tidak terdapat polisi. Dan akhirnya Fhad terselamatkan dari razia polisi. Setelah mengalami banyak masalah di jalan tadi, akhirnya Fhad dan teman-temannya sampai di Gading dengan selamat. Sesampainya disana Fhad bertemu dengan Yudha yang dijalan tadi turun saat tau ada polisi yang ingin merazia. Setelah itu Fhad pun akhirnya bisa menonton bioskop dengan teman-temannya, setelah tadi telah berputar-putar mencari letak bioskopnya. Di dalam bioskop Fhad tidak menempati tempat duduk yang telah disediakan, sehingga Ia di tegur oleh orang yang menempati tempat yang ditempati olehnya. Untungnya saja saat itu bioskopnya tidak ramai, sehingga banyak tempat duduk yang masih kosong.

Setelah menonton bioskop Fhad pun berencana untuk makan malam dulu sebelum kembali. Namun karena banyak teman-temannya yang tidak membawa uang banyak, sehingga akhirnya Fhad berkeputusan untuk pulang. Bukan karena itu saja Fhad mendengar suara geledek yang sangat keras yang bertanda hujan akan segera turun. Dalam perjalanan Fhad kembali mendapat masalah karena saat pulang banyak polisi yang siap menilang. Namun Fhad masih terselamatkan karena polisi tidak melihat motor dia yang tidak lengkap asesorisnya yaitu spion.

Namun tiba-tiba saat dalam perjalanan pulang hujan pun turun dengan sangat deras. Ia pun langsung mengebut dengan motornya itu. Dan saat dalam perjalanan ngebut dan jalanan pun licin karena hujan. Ia terkecoh oleh motor yang ada di depannya, yang saat sedang ingin berbelok namun tidak jadi karena salah jalan. Kecelakaan pun tidak dapat dihindari. Fhad dan kawannya terjatuh dari motor karena Fhad tidak dapat mengendalikan motornya dengan baik, jalanannya punjuga sangat licin sekali. Tapi untungnya Fhad dan kawannya tidak terluka dan motornya juga tidak rusak parah. Hanya saja body depan motornya lecet-lecet. Ia pun langsung melanjutkan perjalanannya tanpa menghawatirkan motornya yang lecet. Dalam perjalanan Fhad sadar bahwa dia telah KUALAT karena Ia lebih mementingkan ikut bermain dengan teman-temannya ketimbang mengerjakan tugasnya. Fhad pun sangat menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama di kemudian hari nianti.      

Samsul dan Suara Adzan


Suatu hari ada seorang anak lelaki bernama Samsul. Ia adalah seorang anak lelaki pelajar SMA. Seperti biasa setiap pagi hari, Ia selalu bersiap bangun lebih awal untuk bersiap berangkat ke sekolah. Jarang sekali Ia bangun telat. Ia selalu bangun jika adzan subuh berkumandang dari masjid yang berada di sebelah rumahnya. Namun, akhir-akhir ini Samsul sering bangun telat karena tidak pernah mendengar adzan subuh yang biasa didengarnya. “Apa tak ada lagi orang yang mau adzan subuh di masjid sampai aku tak mendengarnya?” tanyanya dalam hati. Kemudian Ia pun langsung segera bangun dan segera ambil air wudhu, kemudian salat subuh, meskipun kesiangan.

Saat Samsul keluar dari kamarnya ia berpapasan dengan Laila, adiknya. “De, apa dah ga ada lagi yah yang adzan subuh di masjid??” Tanya Samsul kepada adiknya Laila. “Eh, sapa bilang, Bang?!” Laila sedikit kaget. “Masa Bang Samsul ga dengar suara adzan dari pengeras suara sekencang itu sih!!” Jamal jadi kebingungan.

Dalam beberapa hari ini ia tidak pernah mendengar suara adzan subuh, sehingga ia sering telat bangun. Padahal biasanya ia selalu kaget dan terbangun oleh suara azan tersebut. Bahkan ia juga selalu uring-uringan sebab mesin pengeras suara adzan tersebut baginya terlalu keras sehingga dapat menggangunya saat Ia asyik tidur. Dengan alasan itulah tempo hari Samsul mengajukan protes kepada pengurus masjid agar mesin pengeras suaranya agak dipelankan. Soalnya suaranya yang terlalu keras atau bising tersebut sangat mengaggu. Yah, meskipun masyarakat di sekitar mesjid itu beragama Islam, tetapi tidak lantas semuanya harus ikut terbangun untuk salat subuh di masjid. Pasti ada diantara mereka yang lelah dan membutuhkan waktu tidur lebih banyak. Jadi apa salahnya kalau mesin pengeras suara itu sedikit dipelankan.
            
           Sejenak terjadi pedebatan sengit antara Samsul dan pengurus masjid. Namun, pengurus masjid tidak bisa menerima alasan yang dikemukakan Samsul tersebut. Bahkan ia menolak jika pengeras suaranya di pelankan. “Beribadah itu mestinya tidak menggangu atau malah merugikan orang lain kan??” begitu Samsul memaksakan keinginannya. Dan akhirnya diambilah jalan kompromi dengan cara mesin suara itu sedikit dipelankan hanya saat adzan subuh saja.

            Setelah kejadian itu, Samsul sering bangun kesiangan. Bahkan adzan subuh pun tak lagi ia dengar. “Apa suara adzannya terlalu pelan atau karena gua yang terlalu lelap tidur kali ye??” pikir Samsul bimbang. Namun, entah kenapa hal itu berlangsung pada hari-hari berikutnya. Padahal Samsul sudah berusaha untuk tidur lebih awal agar dapat mendengar adzan dan tidak bangun telat.  Tapi, suara adzan itu tetap saja tidak ia dengar. “Aneh! Mengapa bisa begitu ya??” Samsul jadi bingung pada dirinya sendiri. Dan akhirnya jadi terbiasalah Samsul dengan kadaaan seperti ini. Ia jadi terbiasa bangun kesiangan dan salat subuh sendirian.

“Bang Samsul semakin besar itu mestinya semakin tahu kewajiban dan tangung jawab. Tapi koq bang Samsul malah semakin seenaknya sendiri sih!!” Laila  mulai sering mengecam sikap abangnya itu. Tetapi sindiran dari adiknya itu tidak pernah diperhatikan oleh Samsul.

            Seminggu kemudian kejadian aneh itu kembali menimpa Samsul. Bahkan lebih parah. Ia bukan hanya tak bisa mendengar adzan subuh saja, namun sekarang ia tidak bisa mendengar suara adzan zuhur dan asar. Semula ia beralasan jika ia tidak bisa mendengar suara adzan zuhur karena aktivitasnya yang cukup banyak di sekolah sehingga ia tidak mendengarnya. Dan ia juga tidak bisa mendengar adzan asar karena keasyikan bermain catur atau bermain playsatation dengan temannya.

Namun seminggu berikutnya, ia pun tidak bisa mendengar suara adzan maghrib. Dan pada akhirnya saat hari ulang tahunnya yang ketujuh belas, ia tidak bisa mendengar semua suara adzan. Ini sungguh kejadian yang sangat aneh dan sangat langka terjadi.

            Pada awalnya Samsul tidak begitu peduli dengan keadannya tersebut. Karena segala aktivitasnya tidak lagi tergangu. Baginya, salat itu tidak harus tepat waktu. Dan yang penting tetap harus salat lima waktu. Tetapi, setelah ia sadar dengan pendengarannya yang aneh itu. Ia mulai ketakutan dengan apa yang dialaminya itu. Bagaimana tidak? Ia bisa mendengar dengan baik suara-suara yang ada disekitarnya. Dari suara orang berbicara, kelakson mobil, hingga suara angin yang berhembus pun masih bisa ia dengar dengan baik dan jelas. Tapi kenapa suara adzan saja yang tidak bisa ia dengar?!

            Ketika waktu zuhur tiba, Samsul langsung berlari ke masjid untuk mengetes pendengarannya. Disana ia melihat seorang muazin sedang mengumandangkan azan. Tapi telinganya tidak dapat mendengar suara adzan tersebut. Ia hanya melihat melihat gerakan bibir sang muazin tanpa bisa mendengar suara adzannya. Kenapa jadi gini yah?? tanya hati Samsul penuh keheranan.

            Ia mulai mencoba menceritakan keanehan yang ia rasakan ini kepada temannya. Namun bukannya ia mendapat solusi dari temannya, tapi ia malah mendapat ejekan dan sindiran yang tidak henti-hentinya. Karena ia sudah tak kuat menahan derita batin yang ia alami. Akhirnya Ia terpaksa menceritakan hal ini kepada orangtuanya.
“Masa?? Hanya suara azan saja yang tak bisa kamu dengar??” tanya Ibu sangat tidak percaya.
“Iya, Bu. Hanya suara azan aja. Suwer deh” jawab Samsul meyakinkan orangtuanya.
“Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Ibu pada Ayah.
“Ini penyakit yang aneh,” komentar Ayah singkat. “Coba nanti sore kita pergi ke dokter THT. Barangkali di telinga kamu ada yang harus di obati tuh!”
Sore harinya sesampainya di RS Firdaus untuk memeriksa telinga Samsul pada Dokter THT yang ada disana. Dokter tersebut langsung memeriksanya. Namun, menurut Dokter tidak ada ganguan atau penyakit yang dialami telinga Samsul. Karena Samsul masih penasaran, ia pun menceritakan keluhan yang ia alami dengan telinganya tersebut. Sang Dokter memberikan usulan untuk memeriksakannya ke psikiater  yang kebetulan masih teman dari Dokter THT tersebut. “Sebentar, saya buatkan surat pengantarnya,” kemudian Pak Dokter membuat surat pengantar untuk Samsul.

            Keesokan harinya Samsul pun langsung berangkat pergi ke Dokter psikiater. Dihadapannya seorang psikiater, Samsul pun menceritakan kronologi kejadian mengapa ia tidak bisa mendengar suara adzan.

            Dokter pskiater itu tersenyum mendengar cerita Samsul tersebut. Sambil mendengar penjelasan cerita dari Samsul. Dokter itu melirik arloji di tangannya. “Sebentar lagi waktu zuhur tiba. Yo kita ke masjid dulu kita salat berjamaah disana.”

Samsul pun menuruti ajakan Dokter pskiater itu. Tak lama menunggu di dalam masjid, seorang muazin segera mengumandangkan adzan dengan pengeras suara. Dan di sela-sela adzan itu psikiater bertanya pada Samsul.“Apakah kamu mendengar suara adzan itu?”.
“Tidak Dok!!” jawab Samsul kelu.
Setelah salat berjamaah di masjid tadi. Dokter pun menjelaskan penyakit yang di derita Samsul. Samsul pun mendapat nasehat dari Dokter itu. Samsul pun sadar dan mendapat pelajaran dari apa yang dilakukannya dulu saat ia berdebat dengan pengurus masjid untuk memelankan pengeras suara dari masjid saat adzan subuh yang sering menggangu dirinya saat tidur.
“Jika kamu ingin kembali menerima kesadaranmu, kamu harus berusaha untuk mengubah sikap dan kebiasaan kamu yang negatif. Dan jangan lupa untuk meminta maaf pada orang-orang yang telah kau sakiti, yang kamu lakukan hanya untuk mendapatkan sesuatu hal kecil yang kamu inginkan dan tidak memperhatikan orang lainnya.” Nasehat dokter kepada Samsul.
“Iya Dok, saya siap untuk merubah diri saya untuk menjadi lebih baik lagi. Dan juga saya akan meminta maaf pada orang yang saya sakiti khususnya pada para pengurus mesjid.” janji Samsul pada Dokter psikiater.
Keesokan harinya ia pun memulai menjalankan janjinya untuk merubah sikapnya. Sebelum adzan subuh, Samsul pun pergi ke masjid sebelah rumahnya itu. Sambil menunggu waktu adzan subuh ia menyempatkan diri untuk berdzikir. Dan setelah masuk waktu subuh, ia pun bergegas untuk menjadi muazin. Namun sangat aneh sekali, meskipun ia menjadi muazin, ia pun tidak bisa mendengar suara adzan yang dikumandangkannya tersebut. Walaupun begitu, ia pun terus berusaha tabah dan tetap mengumandangkan adzannya. Para pengurus masjid yang biasanya menjadi muazin di masjid itu sangat kaget melihat Samsul yang menjadi muazin. Mereka sangat heran karena baru pertama kali Samsul mengumandangkan adzan di masjid tersebut. Hal tersebut dilakukan Samsul tiga hari berturut-urut.
Orang-orang yang telah tau masalah yang dihadapi Samsul. Yang dulu menertawakan dan mengejeknya sekarang merasa iba. Dan mereka pun ikhlas mendoakan Samsul serta memberi dorongan semangat. Karena ia menyadari betapa semua orang kini menaruh perhatian kepadanya, suatu malam ia pun melakukan salat tahajud. Sangking khusuknya Samsul pun meneteskan air matanya.
Memang ampunan itu kadang-kadang datangnya memang tak terduga.
Keesokan sorenya, Samsul seperti biasa bermain catur dengan teman-temannya. Saat itu permainan yang ke tiga, setelah sebelumnya Samsul berturut-turut kalah. Dan dalam pertandingan yang menentukan itu Samsul dalam keadaan menang hanya tiga langkah saja lawannya bisa skak mat. Namun, saat ia asyik bermain tiba-tiba mendengar suara adzan meskipun terdengar samar. Tapi, pikiran Samsul pun masih tertuju pada permainan caturnya. Tak lama kemudian suara adzan tersebut semakin lama semakin jelas di dengar oleh Samsul. Tanpa berfikir panjang, Samsul pun menhgentikan permainannya. Dan segera bergegas pergi ke masjid tempat asal adzan itu berkumandang. Ia pun sangat bersyukur karena telah kembali dapat mendengarkan suara adzan yang telah lama di nantinya. Betapa girangnya Samsul ketika itu.
Sesusai salat berjamaah di masjid tadi. Ia pun langsung cepat-cepat kembali kerumah untuk memberikan kabar kepada keluarganya khususnya kepada orangtuanya. “Bapak . . . . Ibu . . . . Laila . . . . Samsul sekarang dah bisa denger adzan lagi!!” teriak Samsul pada Keluarganya.
“Alhamdulillah . . . . .” ucap syukur orangtua Samsul.
Maka sore itu, layaknya sore saat bulan Rhamadhan saja, keluarga Samsul menunggu waktu adzan maghrib yang sangat penting bagi keluarga Samsul dan khususnya Samsul sendiri.
Dan akhirnya Samsul pun bisa mendengar adzan lagi, layaknya orang normal lainnya. Hingga akhirnya Samsul pun menjadi orang yang taat pada agama karena pengalamannya tersebut.

SELESAI